Tentang Sesama
Blog ini nggak semata2 dibuat oleh pikiran saya sendiri, tapi berdasarkan bnyk survey ke beberapa orang yang udah terjepit dalam hidupnya dan merasakah apa yang namanya ketidakadilan dalam hidup
Pernah ngga kita berpikir seberapa beruntungnya hidup kita? mungkin banyak diantara kita yang berpikir hidup kita ini penuh kesusahan, kita ga sekaya temen kita, kita harus belajar, kita harus sekolah, bantu2 orang tua, ataupun itu. Pernahkah kita berpikir kalau banyak bngt orang yang ga seberuntung kita? Pernahkan kita berpikir demi uang manusia rela melakukan apa aja? Bisakah kita berhenti mengeluh dan berpikir sejenak betapa kita harus bersyukur akan apa yang ada dan mulai memperhatikan sesama di sekitar kita?
Pernahkah berpikir tentang pembantu rumah tangga? Demi sesuap nasi, dia rela ngorbanin harga dirinya buat melayani orang lain? pernahkah kita berpikir seorang suster rela diperintah oleh anak umur 5 thn hanya karena dia pingin mendapatkan uang? Pernah ngga kita mikir seseorang yang dari kecil bantuin orang tuanya jadi buruh tani, karena berpikir kehidupan mereka nggak ada masa depan tiba2 berencana pergi ke kota besar demi mengadu nasib dan berakhir menjadi pembantu rumah tangga? Apakah ada orang yang bercita2 pingin jadi pembantu rumah tangga? GAK ADA! orang dari kampung ke jakarta pasti mikir pengen jadi saudagar, pengen dagang hingga sukses, dsb. Ga bakal ada orang yang pengen jadi pembantu rumah tangga! Layakkah kita merintah2 pembantu seperti boss? Betul pembantu itu digaji, tapi apakah kita yang menggaji mereka? Apakah layak kita yang ga kerja apa2, ga cari uang, marah2 dan jadi boss ke pembantu hanya karena orang tua yang menggaji mereka? Apakah uang bisa membayar harga diri seseorang? gak bisa! kita sama sekali nggak layak untuk semuanya. Pernahkah berpikir seperti ini:
Seorang pembantu kebanyakan punya orang yang dia cintai. Entah itu mereka ketemu di kota, ataupun mereka uda punya suami, tapi mereka tetep tinggal di rumah majikan dan kerja di sana. Mereka udah ngorbanin semuanya, gak ketemu anak dan suami, demi bekerja mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Pernah nggak kita berpikir, mereka sering kali ngirim duit ke rumahnya buat kebutuhan keluarganya. Sekarang coba kita berpikir. apa yang udah mereka dapatkan? uang? uang aja nggak cukup. perlakuan baik? bagus kalau mereka diperlakukan sangat baik di keluarga majikannya. Tapi apa yang mayoritas mereka dapatkan dari majikannya? Mereka dicap males kerja, ga pernah nurut, bodoh, lemot, dsb!! pernah berpikir kalau banyak dari mereka yang nggak diperbolehkan buat cuma ngobrol sama tunangannya, entah itu keluar rumah, atau cuma ngobrol di depan rumah majikan. Majikan berpikir itu gak akan aman buat rumahnya, ataupun pembantunya dianggep pemales karena kerjaannya cuma bisa ngerumpi. Parahnya lagi, si anak majikan punya kuasa penuh atas pembantu itu. Walaupun masi anak2, mereka bisa merintahin pembantu apa aja yang mereka mau. Mereka bisa marah2 kalau bajunya telat dicuci ataupun lupa digosok. Mereka bisa marah2 kalau kamarnya lupa dipel dan marah2 kalau melihat kerjaan pembantunya nggak rapi atau asal2an. Mereka sering kali berpikir pembantunya itu pemalas dan cuma makan gaji buta. Pernahkah mereka sendiri sadar kalau pembantu itu butuh namanya refreshing ataupun kumpul2 sama temannya? Pernahkah mereka sendiri sadar kalau mereka itu tidak serajin yang mereka kira? apakah mereka uda memenuhi tuntutan mereka sebagai pelajar? atau mereka hanya suka jalan2 dan shopping di mal mal ataupun mencoba restoran sana sini? Merekapun nggak 100% rajin, kenapa mereka bisa marah2 ke pembantu seolah2 pembantu mereka pemalas? Mereka selalu pingin ketemu pacarnya, tapi kenapa mereka marah2 kalau pembantunya nelpon suaminya?
Pernahkah mikir hal lain, misalnya pembantu pulang hari? Mungkin orang2 banyak berpikir pembantu pulang hari sudah jauh lebih baik keadaannya. Mereka menyamakan diri seperti mereka yang bekerja sepanjang hari dan malamnya bisa pulang dan ketemu keluarganya. Memang benar, itu yang dialami pembantu pulang hari. Mereka dari pagi kerja melayani majikannya, dan sorenya udah bisa pulang dan ketemu anak2nya. Tetapi apakah keadaan mereka sama baiknya dengan keadaan majikannya? nggak! Majikan mungkin pulang kerja dengan perasaan lelah, tapi baju, kebersihan rumah, dsb udah "beres" oleh pembantunya. Mereka nggak perlu pusing soal pakaian besok kerja, soal kebersihan rumah, wc, dsb. Tapi pembantu yang pulang hari, pernahkah kita berpikir ketika dia pulang ada BANYAK hal yang harus dia kerjain? Banyak baju anak2nya yang belum dicuci, baju suaminya, rumahnya kotor, belum dipel dan pasti mereka nggak punya pembantu ataupun mesin cuci. Mereka harus kembali melakukan pekerjaan pembantunya itu di rumahnya sendiri, bahkan tanpa mesin cuci. Pernahkan berpikir mencuci baju dengan papan penggilas itu lelahnya setengah mati? bisa dibilang, mereka bisa kerja non stop sepanjang hari, bahkan ketika pulang kerja pun! Majikan selalu mengeluh kalau pembantunya itu pemalas. Pagi2 di rumah majikan, pembantu kelihatan kelelahan ketika sedang bekerja, tetapi apa yang dia dapat? omelan tentu saja. Mereka dicap ga niat kerja. Lebih hebatnya lagi, anak majikan yang marah2!! padahal dia sendiri selalu nuntut libur sekolah, nuntut jalan2 ke mall, ngeluh kalo dikasi tugas dari sekolah ataupun kuliah. Coba berpikir sesuatu yang berbeda lagi. Ketika anak2 pembantu ini uda cukup kuat untuk ngurusin dirinya sendiri (e.g. umur 6 thn), mereka dipaksa untuk mencuci bajunya sendiri karena mamanya (pembantu) ini udah kelelahan ketika pulang kerja ngurusin rumah majikannya sepanjang hari. Perhatikan bagaimana ketika mereka pulang, mereka liat anak2nya mencuci bajunya di papan penggilas sedangkan tadi sore dia baru dimarahin oleh "bos kecil" (anak majikan) dengan alasan dia (pembantu) ini belum mencuci baju anak majikannya itu untuk keperluan kuliahnya besok. Saya yakin pasti ada pisau yang begitu menancap di hati mereka. Mereka betul2 melihat ada sesuatu yang begitu berbeda dalam 2 sisi kehidupan ini. Mereka udah berhenti complain, ngeluh, dan mengganggap semuanya itu "sudah takdir".
Banyak orang2 yang take thing for granted, yang sudah mengganggap sekolah, kehidupan, rumahnya, dll itu adalah hal biasa yang sudah sepantasnya mereka nikmati. Keadaannya nggak demikian! Banyak yang nganggep kalo orang kerja nggak layak karena mereka nggak sekolah. Coba pikir seperti ini. Apakah anak dari pembantu mereka bisa sekolah? Kalau bisa pun, apakah mereka bisa sekolah dengan layak dan bisa belajar dengan baik kalau memang mamanya harus kerja seharian di rumah mereka dan nggak punya kesempatan untuk membimbing anaknya belajar? Banyak orang yang uda kehilangan kehangatan keluarga dengan kerasnya dunia ini. Kita yang bisa sekolah, bisa diajarin orang tua, dibimbing ketika kita masih TK dan SD, merupakan suatu anugrah besar sehingga kita bisa lanjut sekolah sampai kuliah dan mendapatkan pekerjaan layak. Ketika kita bisa ditanya2 tentang materi pelajaran untuk ulangan besok oleh mama kita, apakah anak2 si pembantu punya kesempatan yang sama? apakah pembantu (mama) itu bisa nanyain pelajaran mereka? kayaknya ngga, mereka pasti sibuk ngurusin pekerjaan rumah tangga mereka sendiri, karena spnjg hari mereka harus ngurusin pekerjaan rumah tangga majikannya, bukan rumahnya.
Dunia ini nggak adil. Itu benar. banyak orang menganggap apa yang saya pikirkan itu nggak ada gunanya, naif, munafik, dan menganggap toh saya nggak bisa melakukan apa2 untuk mengubah keadaan ini. Betul saya akui, saya nggak bisa berbuat banyak dengan ini semua. Tapi nggak bisakah kita lebih memperhatikan sesama sekarang, lebih ramah terhadap pembantu? Bilang terimakasih buat mereka terhadap apa yang mereka udah lakuin? Maklumi ketika mereka minta cuti atau kelelahan, bukannya nuntut mereka harus 24 jam 7 hari demi diri kita? Apakah kita uda sering survey berapa rata2 umur pembantu rumah tangga di jakarta? 18-24 tahun!!! Bukannya itu umur yang layak buat belajar, kuliah, dan mengejar impian masa depan? Mereka cuma menguburkan impiannya dalam2 buat melayani majikan, menurunkan harga diri, dan diperintah anak umur 12 tahun. Ga bisakah perlakukan pembantu lebih baik? seperti keluarga sendiri? nggak bisakah cuma sekedar ngomong "terimakasih" buat apa yang mereka buat ataupun beliin oleh2 buat mereka kalau kita berpergian?
A simple, gentle act means a lot for them. A simple "thank you" means so much for them as they've been living a hard life. A simple smile and laugh creates an incomprehensible joyfull in their heart as they know they can't do anything more except serving their masters. So treat them well and show kindness and care for them as if they were our family. If they are "stupid" please bear in mind that they are not as lucky as us which can get into school since begining of our lifes or get a good nutrition since young. Please bear in mind that they are poor people who cannot afford of healthy food since in the first stage of their life

Comments